Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Mei 2013

3 Hal yang masih paling menguasai dunia ini



3 Hal yang masih paling menguasai dunia ini




Ketika saya buka website berita hampir semuanya membicarakan kasus “ daging renyah “ yang melibatkan Ahmad Fathani dan petinggi PKS Lutfi Hasan yang sudah mengundurkan diri setelah kasus ini mencuat serta seorang mahasiswi cantik yang berumur belia ( 19 tahun ) Maharany Suciyono. Kalau dilihat dari kasus ini mesti melibatkan Harta dan Wanita, status Harta untuk suap menyuap perihal pengadaan daging sapi impor sedangkan untuk Wanita adalah keterlibatan Maharany sebagai “ Hadiah “ atau pemulus jalannya transaksi tersebut. Juga tidak terlepas dari konflik perebutan tahta kekuasaan RI 1 di 2014 mendatang.

Harusnya ini bisa dijadikan pelajaran bagi setiap individu yang memiliki  kesempatan untuk bersentuhan langsung dengan ketiga hal tersebut. Harus banyak mawas diri dan tahu akan akibatnya baik dirinya serta keluarganya. Bahkan yang paling kuat dari ketiganya adalah wanita, bagi seorang laki-laki atau suami tidak akan berbuat macam-macam ( KKN ) kalau dari pihak wanita tidak meminta lebih diluar kemampuan yang dimiliki oleh sang suami. Maka peran wanita atau istri benar-benar menentukan tindak tanduk suaminya, kalau sang istri yang solehah dia akan mengontrol setiap pengeluaran dan pemasukan dari penghasilan suaminya apakah sesuai dan wajar atau tidak.

Orang tua di rumah juga sangat berperan untuk mengawasi putri-putrinya agar tidak menyimpang dan berperilaku hedonis sehingga si anak akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Mengutip paparan dari merdeka.com ( 5/02/2013 ), Sosiolog Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Musni Umar mengatakan, ada beberapa hal yang membuat seseorang melakukan perbuatan tercela tersebut, di antaranya adalah usaha memenuhi kebutuhan gaya hidup.

"Dalam kasus saudari M, saya bisa mengkategorikannya ke dalam corruption by need. Dia memerlukan biaya untuk mengikuti gaya hidupnya," kata Musni Umar kepada merdeka.com, Minggu (3/2).

Namun, lanjut Musni, jika si cewek berasal dari keluarga yang mampu, bisa menempuh pendidikan di bangku perguruan tinggi bermutu, dapat uang saku, maka perilaku tersebut bisa dimasukan ke dalam corruption greed.

Dia mengingatkan, yang bisa dilakukan oleh orang tua agar anaknya tidak terjebak ke dalam perilaku tidak sehat ini dengan memperhatikan perubahan di diri anaknya.

"Terutama perubahan ekonomi. Perhatikan, apabila anaknya tiba-tiba memiliki barang mewah, itu harus dicurigai," ujarnya.

Tapi dia mengingatkan orang tua, agar jangan menanyakan secara langsung setiap perubahan di diri anak mereka.

"Tanya baik-baik, kalau perlu ada harus bisa memata-matai, agar tidak terlanjur terjerat kesusilaan," katanya.
Demikian semoga kita bisa mengawasi perilaku anak-anak kita, dan kita bisa jadi teladan yang baik buat mereka.
Inspirasi merdeka.com



Masukkan Email Anda untuk Langganan Artikel:

Delivered by FeedBurner

Selasa, 14 Mei 2013

Jangan Mudah Mengatakan KAFIR pada saudara Muslim kita

Assalamualaikum Wr. Wb.


Allahumma Sholli ala Sayyidina Muhammadin wa ala alii sayyidina Muhammad, Kama Shollaita Ala Sayyidina Ibrohim wa ala alii sayyidina Ibrohim, Wa barik ala Sayyidina Muhammad wa ala alii sayyidina Muhammad Fi alamina innaka hamidun majiid. Wa ba'du.

Semoga selamat dan kesejahteraan selalu menyertai saudaraku sekalian sobat sang fakir, juga hidayah dan hari-hari Indah selalu menaungi anda semua. Kali ini saya ingin menuliskan tentang hasil pengajian pada hari minggu 12 Mei 2013 kemarin, ya kajian mingguan yang rutin diadakan di musholla kami.

Mungkin saudara pernah mendengar ada sebagian saudara kita yang begitu mudahnya mengatakan KAFIR pada saudara semuslim lainnya. Ini ada contoh kasus yang mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua. Pada saat Ustadz saya mengadakan pengajian Ibu-ibu di sebuah komplek di Kota serang, beliau ditanya oleh seorang Ibu yang pertanyaanya adalah berikut ini "

Ibu pengajian : "Pak Ustad katanya mereka yang tidak memakai Jilbab itu meninggalnya tidak usah dishalatkan karena sudah terkena Hukum KAFIR baginya, bagaimana itu ?".

Pak Ustadz : " Sekarang saya balik tanya ke ibu, berarti mereka yang tidak memakai jilbab itu otomatis bercerai dengan suaminya, dan pernikahannya batal demi hukum, terus ketika mereka melakukan hubungan intim berarti mereka selama ini berjinah "

Mendengar jawaban pak ustadz itu si ibu terperangah dan dia menjadi kebingungan, dia hanya mengangguk-anggukan kepala tanda dia merasa ada yang salah.

Pak Ustadz : " Ibu baca dari buku atau dari orang ? Meski mereka jelas-jelas melanggar satu ayat Allah tetapi mereka masih muslim dan belum menyatakan secara terang-terangan bahwa dirinya keluar dari Islam atau murtad maka mereka tetap saudara Muslim kita. Mereka hanya terkena hukum melakukan Dosa besar, yang ketika mereka bertobat mereka tobatnya diterima bukan KAFIR. Kalau demikian semua yang berkaitan hukum islam baginya tidak berlaku, mau hukum waris, pernikahan, persaksian dan smuanya yang berkaitan dengan syariat Islam tidak berlaku padanya. Jadi mohon berhati-hati dalam mengatakan KAFIR pada saudara kita, karena akibatnya fatal bagi saudara kita tersebut.  Wallahu alam bishawab.

Masukkan Email Anda untuk Langganan Artikel:

Delivered by FeedBurner

Sabtu, 11 Mei 2013

Pertanyaan Seputar Puasa Rajab dan Keutamaanya

Assalamualaikum, Wr. Wb



Pimpinan MR, Habibana Mundzir Al Musawa

Allahumma sholli Ala Sayyidina Wa maulana Muhammadin, wa ala ali sayyidina Muhammad wa shohbihi ajmain. wa ba'du.

Pada malam yang mulia ini sobat sang fakir saya telah menyaksikan secara stream online karena tidak bisa hadir langsung di Majelis Rasulullah [MR]. Saya menyaksikan Habibana Munzir masih lemah kondisi fisiknya, beliau masih sakit sebenarnya tapi karena kecintaanya pada baginda Nabi SAW beliau tetap semangat untuk menyampaikan risalahNYA yang mulia pada baginda yang mulia SAW.

Beliau begitu khusyuk menyampaikan bagaimana akhlak sang Nabi dan juga keutamaan Rasulullah SAW lainnya. Rasulullah SAW Mahabbah ( Mencintai ) Allah SWT, sehingga ia mencintai seluruh makhluk ciptaannya tidak terkecuali Jin, Iblis, syetan laknatullah alaih. Rasulullah begitu menginginkan seluruh makhluk mendapat hidayahNYA, tapi beliau juga sadar kalau Iradat Allah berkata lain. Rasulullah SAW adalah makhluk terbaik ialah semulia-mulianya ciptaan, ialah bapaknya, penghulunya, pemimpinya para Nabi dan Rasul. Ia memiliki akhlak yang sangat mulia, sehingga dari kalangan musuhnya saja ketika melihat mukanya SAW berkata " muka beliau bukan termasuk muka pendusta ".

Beliau memiliki muka yang indah nan lembut, siapa saja yang melihatnya akan merasakan kelembutan cahaya Ilahi. Tanganya sangat lembut melebihi lembutnya sutera yang paling lembut di seantero alam ini. Keringatnya sangat harum melebihi harumnya minyak wangi yang paling wangi di seluruh alam ini. Ialah satu-satunya khoirul anam yang bisa bermuajahah dan bertemu langsung dengan Sang Pencipta Allah SWT tanpa hijab dan halangan.

Itulah gambaran Rasulallah SAW, sesiapa yang mencintai beliau maka ia akan mendapat syafaatnya seperti sabda baginda " Ia bersama yang ia cintai ". Dalam bulan haram yang mulia ini yaitu Rajab terjadi peristiwa yang sangat mulia yaitu Isra Wal Mi'raj, dimana baginda nabi diberangkatkan pada malam hari dari Masjidil haram kemudian ke Masjidil Aqsha, kemudian naik ke Sidratul muntaha di depan Arys NYA Allah SWT.

Sebenarnya setiap saat ketika kita shalat 5 waktu itu memperingati Peristiwa itu ketika membaca Tahiyyat itulah percakapan langsung antara baginda Nabi SAW dengan Allah SWT. Dengan demikian salah satu amal yang disunahkan adalah dengan berpuasa, Rasulullah SAW sering berpuasa di 3 bulan haram yaitu Rajab, Sya'ban dan Ramadhan, Seperti yang di jelaskan dalam sebuah masail ( tanya jawab ) dari Websitenya Majelis Rasulullah SAW berikut :

Jawaban atas yang memalsukan hadits keutamaan Rajab

Sumber Majelis Rasulullah SAW

hadist bantahan amalan rajab - 2007/07/23 01:32assalamualaikum bib....
semoga salam sejahtera terlimpahkan atas habib dan keluarga berserta jama'ah...amin

bib, mohon tanggapan atas hadist di bawah ini, karena inilah yang dijadikan pembenaran bahwa hadist tentang keutamaan bulan rajab adalah palsu...
dan beri bantahan atas hadist dibawah ini bib....
semoga mereka diberi hidayah ilmu...amin

Hadits Palsu Seputar Amalan Bulan Rajab
Senin, 22 Agustus 2005 - 23:54:44 :: kategori Fiqh
Penulis: Al Ustadz Abu Al Mundzir Dzul Akmal As Salafiy.
.: :.
1. حديث : رجب شهر الله, وشعبان شهري, ورمضان شهر أمتى. فمن صام من رجب يومين. فله من الأجر ضعفان, ووزن كل ضعف مثل جبال الدنيا, ثم ذكر أجر من صام أربعة أيام, ومن صام ستة أيام, ثم سبعة أيام ثم ثمانية أيام, ثم هكذا: إلى خمسة عشر يوما منه.

Artinya : "Rajab adalah bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam), sedangkan Ramadhan bulan ummat Saya. Barang siapa berpuasa di bulan Rajab dua hari, baginya pahala dua kali lipat, timbangan setiap lipatan itu sama dengan gunung gunung yang ada di dunia, kemudian disebutkan pahala bagi orang yang berpuasa empat hari, enam hari, tujuah hari, delapan hari, dan seterusnya, sampai disebutkan ganjaran bagi orang berpuasa lima belas hari.

Hadits ini "Maudhu`" (Palsu). Dalam sanad hadits ini ada yang bernama Abu Bakar bin Al Hasan An Naqqaasy, dia perawi yang dituduh pendusta, Al Kasaaiy- rawi yang tidak dikenal (Majhul). Hadits ini juga diriwayatkan oleh pengarang Allaalaiy dari jalan Abi Sa`id Al Khudriy dengan sanad yang sama, juga Ibnu Al Jauziy nukilan dari kitab Allaalaiy.

1. حديث : من صام ثلاثة أيام من رجب, كتب له صيام شهر, من صام سبعة أيام من رجب, أغلق الله عنه سبعة أبواب من النار, ومن صام ثمانية أيام من رجب, فتح الله له ثمانية أبواب من الجنة, ومن صام نصف رجب حاسبه الله حسابا يسيرا.
Artinya : "Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan Rajab, sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh, barang siapa berpuasa tujuh hari Allah Subhana wa Ta`ala akan menutupkan baginya tujuh pintu neraka, barang siapa berpuasa delapan hari di bulan Rajab Allah Ta`ala akan membukakan baginya delapan pintu sorga, siapapun yang berpuasa setengah dari bulan Rajab itu Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah sekali."

Diterangkan di dalam kitab Allaalaiy setelah pengarangnya meriwayatkannya dari Abaan kemudian dari Anas secara Marfu` : Hadits ini tidak Shohih, sebab Abaan adalah perawi yang ditinggalkan, sedangkan `Amru bin Al Azhar pemalsu hadits, kemudian dia jelaskan : Dikeluarkan juga oleh Abu As Syaikh dari jalan Ibnu `Ulwaan dari Abaan, adapun Ibnu `Ulwaan pemalsu hadits.

2. حديث : إن شهر رجب شهر عطيم. من صام منه يوما كتب له صوم ألف سنة – إلخ.
Artinya : "Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang mulia. Barang siapa berpuasa satu hari di bulan tersebut berarti sama nilainya dia berpuasa seribu tahun-dan seterusnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahin dari `Ali secara Marfu`. Dan dijelaskan dalam kitab Allaalaiy : Hadits ini tidak Shohih, sedangkan Haruun bin `Antarah selalu meriwayatkan hadits-hadits yang munkar.

3. حديث : من صام يوما من رجب, عدل صيام شهر-إلخ
Artinya : "Barang siapa yang berpuasa di bulan Rajab satu hari sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh dan seterusnya".

Diriwayatkan oleh Al Khathiib dari jalan Abi Dzarr Marfu`. Di sanadnya ada perawi : Al Furaat bin As Saaib, dia ini perawi yang ditinggalkan.

Berkata Al Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya "Al Amaaliy" : sepakat diriwayatkan hadist ini dari jalan Al Furaat bin As Saaib- dia ini lemah- Rusydiin bin Sa`ad, dan Al Hakim bin Marwaan, kedua perawi ini lemah juga.

Sesungguhnya Al Baihaqiy juga meriwayatkan hadits ini di kitabnya : "Syu`abul Iman" dari hadits Anas, yang artinya : "Siapapun yang berpuasa satu hari di bulan Rajab sama nilainya dia berpuasa satu tahun." Di menyebutkan hadits yang sangat panjang, akan tetapi di sanad hadits ini juga ada perawi ; `Abdul Ghafuur Abu As Shobaah Al Anshoriy, dia ini perawi yang ditinggalkan. Berkata Ibnu Hibbaan : "Dia ini termasuk orang orang yang memalsukan hadits".

4. حديث : من أحيا ليلة من رجب, وصام يوما. أطعمه الله من ثمار الجنة – إلخ.
Artinya : "Barang siapa yang menghidupkan satu malam bulan Rajab dan berpuasa di siang harinya, Allah Ta`ala akan memberinya makanan dari buah buahan sorga- dan seterusnya."

Diriwayatkan dalam kitab Allaalaiy dari jalan Al Husain bin `Ali Marfu`: Berkata pengarang kitab : Hadits ini Maudhu` (palsu).

5. ديث : أكثروا من الاستغفار فى شهر رجب. فإن لله فى كل ساعة منه عتقاء من النار, وإن لله لا يدخلها إلا من صام رجب.
Artinya : "Perbanyaklah Istighfar di bulan Rajab. Sesungguhnya Allah Ta`ala membebaskan hamba hambanya setiap sa`at di bulan itu, dan Sesungguhnya Allah Ta`ala mempunyai kota kota di Jannah-Nya yang tidak akan dimasuki kecuali oleh orang yang berpuasa di bulan itu.

Dikatakan dalam "Adz dzail" : Dalam sanadnya ada rawi namanya Al Ashbagh : Tidak bisa dipercaya.

6. حديث : فى رجب يوم وليلة, من صام ذلك اليوم, وقام تلك الليلة. كان له من الأجر كمن صام مائة-إلخ.
Artinya : "Di bulan Rajab ada satu hari dan satu malam, siapapun yang berpuasa di hari itu, dan mendirikan malamnya. Maka sama nilainya dengan orang yang berpuasa seratus tahun dan seterusnya.

Dikatakatan dalam "Adz dzail" : Di dalam sanadnya ada nama rawi Hayyaj, dia adalah rawi yang ditinggalkan.

Dan demikian disebutkan tentang : "Berpuasa satu hari atau dua hari di bulan itu."

Disebutkan juga dalam "Adz dzail : Sanad hadits ini penuh dengan kegelapan sebahagian atas sebahagian lainnya, di dalam sanadnya ada perawi perawi yang pendusta : Dan demikian diriwayatkan : "Bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkhutbah pada hari jum`at sepekan sebelum bulan Rajab. Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata : "Hai sekalian manusia! Sesungguhnya akan datang kepada kalian satu bulan yang mulia. Rajab bulan adalah bulan Allah yang Mulian, dilipat gandakan kebaikan di dalamnya, do`a do`a dikabulkan, kesusahan kesusahan akan di hilangkan." Ini adalah Hadist yang Munkar.

Dan dalam hadits yang lain : "Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, dan mendirikan satu malam dari malam malamnya, maka Allah Tabaraka wa Ta`ala akan membangkitkannya dalam keadaan aman nanti di hari Kiamat- dan seterusnya."

Di dalam sanad hadits ini : Kadzaabun (para perawi pendusta).

Demikian juga hadits : "Barang siapa yang menghidupkan satu malam di bulan Rajab, dan berpuasa di siang harinya: Allah akan memberikan makanan buatnya buah buahan dari Sorga- dan seterusnya."

Didalam sanadnya : Para perawi pembohong/pemalsu hadits.

Demikian juga hadits : "Rajab bulan Allah yang Mulia, dimana Allah mengkhususkan bulan itu buat diri-Nya. Maka barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan itu dengan penuh keimanan dan mengharapkan Ridho Allah, dia akan dimasukan ke dalam Jannah Allah Ta`ala- dan seterusnya."

Didalam sanadnya : Para perawi yang ditinggalkan.

Demikian juga hadits : "Rajab bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam, Ramadhan bulan ummat Saya." Demikian juga hadits : "Keutamaan bulan Rajab di atas bulan bulan lainnya ialah : seperti keutamaan Al Quran atas seluruh perkataan perkataan lainnya- dan seterusnya."
Berkata Al Imam Ibnu Hajar : Hadits ini Palsu.
Berkata `Ali bin Ibraahim Al `Atthor dalam satu risalahnya : "Sesungguhnya apa apa yang diriwayatkan tentang keutamaan tentang puasa di bulan Rajab, seluruhnya Palsu dan Lemah yang tidak ada ashol sama sekali. Berkata dia : "`Abdullah Al Anshoriy tidak pernah puasa di bulan Rajab, dan dia melarangnya, kemudian berkata : "Tidak ada yang shohih dari Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam satupun hadist mengenai keutamaan bulan Rajab." Kemudian dia berkata : Dan demikian juga : "Tentang amalan amalan yang dikerjakan pada bulan ini : Seperti mengeluarkan Zakat di dalam bulan Rajab tidak di bulan lainnya." Ini tidak ada ashol sama sekali.

Dan demikian juga, "Dimana penduduk Makkah memperbanyak `Umrah di bulan ini tidak seperti bulan lainnya." Ini tidak ada asal sama sekali sepanjang pengetahuan saya. Dia berkata : "Diantara yang diada-adakan oleh orang yang `awwam ialah : "Berpuasa di awal kamis di bulan Rajab," yang keseluruhannya ini adalah : Bid`ah.

Dan diantara yang mereka ada adakan juga di bulan Rajab dan Sya`ban ialah : "Mereka memperbanyak ketaatan kepada Allah melebihi dari bulan bulan lainnya."

Adapun yang diriwayatkan tentang : "Bahwa Allah Ta`ala memerintahkan Nabi Nuh `Alaihi wa Sallam untuk membuat kapalnya di bulan Rajab ini, serta diperintahkan kamu Mu`minin yang bersama dia untuk berpuasa di bulan ini." Ini Hadits Maudhu` (Palsu).

Diantara bid`ah-bid`ah yang menyebar di bulan ini adalah :
1. Sholat Ar Raghaaib.
Sholat Ar Raghaaib ini diamalkan di setiap awal Jum`at di bulan Rajab.

Ketahuilah semoga Allah Tabaraka wa Ta`ala merahmatimu- bahwa mengagungkan hari ini, malam ini sesungguhnya diadakan ke dalam Din Islam ini setelah abad keempat Hijriyah. (Lihat literatur berikut ini tentang bid`ahnya sholat Raghaib :
1. "Iqtida` As Shiratul Mustaqim" : hal.283. Dan "Tulisan Ilmiyah diantara dua orang Imam ; Al `Izz bin `Abdus Salam dan Ibnu As Sholah sekitar Sholat Raghaaib."
2. "Al Ba`itsu `Ala Inkari Al Bida` wa Al Hawaadist" : hal. 39 dan seterusnya.
3. "Al Madkhal" oleh Ibnu Al Haaj : 1/293.
4. "As Sunan wal Mubtadi`aat" : hal. 140.
5. "Tabyiinul `Ujab bima warada fi Fadhli Rajab" : hal. 47.
6. "Fataawa An Nawawiy" : hal. 26.
7. "Majmu` Al Fataawa oleh Ibnu Taimiyah" : 2/2.
8. "Al Maudhuu`aat" : 2/124.
9. "Allaalaaiy Al mashnu`ah" : 2/57.
10. "Tanzihus Syari`ah" : 2/92.
11. "Al Mughni `anil Hifdzi wal Kitab" : hall. 297- serta bantahannya : Jannatul Murtaab.
12. "Safarus Sa`adah" : hal. 150.

Sepakat `Ulama tentang hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai keutamaan bulan Rajab adalah palsu, sesungguhnya telah diterangkan oleh sekelompok Al Muhaditsin tentang palsunya hadits sholat Ar Raghaaib diantara mereka ialah : Al Haafidz Ibnu hajar, Adz Dzahabiy, Al `Iraaqiy, Ibnu Al Jauziy, Ibnu Taimiyah, An Nawawiy dan As Sayuthiy dan selain dari mereka. Kandungan dari hadits-hadits yang palsu itu ialraah mengenai keutamaan berpuasa pada hari itu, mendirikan malamnya, dinamakan "shalat Ar Raghaaib," para ahli Tahqiiq dikalangan ahli ilmu telah melarang mengkhususkan hari tersebut untuk berpuasa, atau mendirikan malamnya melaksanakan sholat dengan cara yang bid`ah ini, demikian juga pengagungan hari tersebut dengan cara membuat makanan makanan yang enak-enak, mengishtiharkan bentuk bentuk yang indah indah dan selain yang demikian, dengan tujuan bahwa hari ini lebih utama dari hari hari yang lainnya.

2. Sholat Ummu Daawud di pertengahan bulan Rajab.

Demikian juga hari terakhir dipertengahan bulan Rajab, dilaksanakan sholat yang dinamakan sholat "Ummu Daawud" ini juga tidak ada asholnya sama sekali. "Iqtidaus Shiraatul Mustaqim" : hal. 293.

Berkata Al Imam Al Hafidz Abu Al Khatthaab : "Adapun sholat Ar Raghaaib, yang dituduh sebagai pemalsu hadits ini ialah : `Ali bin `Abdullah bin jahdham, dia memalsukan hadits ini dengan menampilkan rawi rawi yang tidak dikenal, tidak terdapat diseluruh kitab." Pembahasan Abu Al Khatthaab ini terdapat dalam :
"Al Baa`its `Ala Inkaril Bida` wal Ahadist" : hal. 40.
Abul Hasan : `Ali bin `Abdullah bin Al Hasan bin Jahdham, As Shufiy, pengarang kitab : "Bahjatul Asraar fit Tashauf".
Berkata Abul Fadhal bin Khairuun : Dia pendusta.
Berkata selainnya : Dia dituduh sebagai pemalsu hadits sholat Ar Raghaaib.

Lihat terjemahannya dalam : "Al `Ibir fi Khabar min Ghubar." : (3/116), "Al Mizan" : (3/142), "Al Lisaan" : (4/238), "Maraatul Jinaan" (3/28), "Al Muntadzim" : (8/14), "Al `Aqduts Tsamiin" : (6/179).

Asal daripada sholat ini sebagaimana diceritakan oleh : At Thurthuusyiy dalam "kitabnya" : "Telah mengkhabarkan kepada saya Abu Muhammad Al Maqdisiy, berkata Abu Syaamah dalam "Al Baa`its" : hal. 33 : "Saya berkata : Abu Muhammad ini perkiraan saya adalah `Abdul `Aziz bin Ahmad bin `Abdu `Umar bin Ibraahim Al Maqdisiy, telah meriwayatkan darinya Makkiy bin `Abdus Salam Ar Rumailiy As Syahiid, disifatkan dia sebagai As Syaikh yang dipercaya, Allahu A`lam." Berkata dia: tidak pernah sama sekali dikalangan kami di Baitul Maqdis ini diamalkan sholat Ar Raghaaib, yaitu sholat yang dilaksanakan di bulan Rajab dan Sya`ban. Inilah bid`ah yang pertama kali muncul di sisi kami pada tahun 448 H, dimana ketika itu datang ke tempat kami di Baitil Maqdis seorang laki laki dari Naabilis dikenal dengan nama Ibnu Abil Hamraa`, suaranya sangat bagus sekali dalam membaca Al Quran, pada malam pertengahan (malam keenam belas) di bulan Sya`ban dia mendirikan sholat di Al Masjidil Aqsha dan sholat di belakangnya satu orang, lalu bergabung dengan orang ketiga dan keempat, tidaklah dia menamatkan bacaan Al Quran kecuali telah sholat bersamanya jama`ah yang banyak sekali, kemudian pada tahun selanjutnya, banyak sekali manusia sholat bersamanya, setelah itu menyebarlah di sekitar Al Masjidil Aqsha sholat tersebut, terus menyebar dan masuk ke rumah rumah manusia lainnya, kemudian tetaplah pada zaman itu diamalkan sholat tersebut yang seolah olah sudah menjadi satu sunnah di kalangan masyarakat sampai pada hari kita ini. Dikatakan kepada laki laki yang pertama kali mengada-adakan sholat itu setelah dia meninggalkannya, sesungguhnya kami melihat kamu mendirikan sholat ini dengan jama`ah. Dia menjawab dengan mudah : "Saya akan minta ampun kepada Allah Ta`ala."

Kemudian berkata Abu Syaamah : "Adapun sholat Rajab, tidak muncul di sisi kami di Baitul Maqdis kecuali setelah tahun 480 H, kami tidak pernah melihat dan mendengarnya sebelum ini." (Al Baa`itsu : hal. 32-33).

Fatwa Ibnu As Sholaah tentang sholat Ar Raghaaib, Malam Nishfu Sya`ban

3. Sholat Al Alfiah.
Sesungguhnya As Syaikh Taqiyuddin Ibnu As Sholaah rahimahullah Ta`ala pernah dimintai fatwa tentang hal ini, lalu beliau menjawab :
"Adapun tentang sholat yang dikenal dengan sholat Ar Raghaaib adalah bid`ah, hadits yang diriwayatkan tentangnya adalah palsu, dan tidaklah sholat ini dikenal kecuali setelah tahun 400 H, tidak ada keutamaan malamnya dari malam malam yang lainnya. Lihat Hadist hadist ini dalam kitab yang disebutkan di atas hal. 100-101, dan hal. 439-440.

Diterjemahkan dari kitab Al Fawaaid Al Majmu`ah, Al Ahadiits Al Maudhu`ah, karya Syaikhul Islam Muhammad Bin `Ali As Syaukaniy (Wafat : 1250 H)


(Dikutip dari website http://thullabul-ilmiy.or.id/modules/news/artikel.php?storyid=3, judul asli "Hadist-Hadist Palsu Mengenai Keutamaan Bulan Rajab.", diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu Al Mundzir As Salafiy.)
| | Silahkan login terlebih dahulu untuk bertanya
Re:hadist bantahan amalan rajab - 2007/07/23 21:58Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Rahmat dan keridhoan Nya swt semoga selalu tercurah pada hari hari anda,

saudaraku yg kumuliakan,
sebagaimana telah saya jelaskan di majelis majelis cabang dan pusat, bahwa hadits hadits tentang kemuliaan bulan rajab ini tidak ada yg shahih, sebagian besar adalah dhoif, namun bukan berarti itu menafikan kemuliaan di bulan rajab,

tak satupun para Muhaddits yg mengharamkan puasa di bulan rajab,

telah berkata Al hafidh Al Muhaddits Imam Nawawi rahimahullah : 
ولم يثبت في صوم رجب نهى ولا ندب لعينه ولكن أصل الصوم مندوب إليه وفي سنن أبي داود أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ندب الى الصوم من الأشهر الحرم ورجب أحدها

tak ada ketentuan jelas yg menguatkan pelarangan puasa pada bulan rajab, tidak pula keterangan sunnah melakukannya, akan tetapi asal dari ibadah puasa adalah sunnah, dan pada riwayat sunan Abu Dawud baha Rasulullah saw mensunnahkan puasa di bulan haram, dan Rajab adalah salah satu dari bulan haram.

maka jelaslah sudah bahwa sunnah berpuasa di bulan rajab, dan segenap bulan haram (bulan haram adalah 3 bulan berturut turut dan 1 bulan terpisah, yaitu : Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab)

maka merupakan kemungkaran bagi yg mengharamkannya, karena sebagaimana dijelaskan oleh Al hafidh Imam Nawawi bahwa hal ini tidak ada dalil yg melarangnya, maka sunnah berpuasa di hari hari yg tidak diharamkan puasa padanya seperti hari Ied.

pengingkaran akan hal ini adalah mungkar, bila sekelompok muslimin ingin berpuasa di bulan rajab maka tak ada satu dalilpun yg melarangnya, karena puasa itu bukan untuk memuliakan berhala, tapi ibadah karena Allah swmata.

hal yg sangat menyedihkan, sebagian besar muslimin berpuasa di bulan rajab, sebagian lain tak perduli, dan sebagian lainnya sibuk melarang yg berpuasa,

kelompok ketiga inilah yg berbahaya, melarang orang muslim beribadah karena Allah, berpuasa karena Allah, sudah jelas kemungkaran muslimin semakin banyak bermaksiat, maka muncul pula kelompok yg mengharamkan apa apa yg tak diharamkan Allah swt.

إن أعظم المسلمين في المسلمين جرما من سأل عن شيء لم يحرم على المسلمين فحرم عليهم من أجل مسألته

Sabda Rasulullah saw : “Sungguh sebesar besar kejahatan muslimin pada muslimin lainnya, adalah yg bertanya tentang hal yg tidak diharamkan atas muslimin, menjadi diharamkan atas mereka karena pertanyaannya” (shahih Muslim hadits no.2358)

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a'lam



Tanya Jawab Lainnya Sumber Majelis Rasulullah SAW
FADHILAH PUASA DI BULAN RAJAB - 2007/07/15 20:50Assalamu'alaikum Wr.Wb.Yaa Habibina Habib Munzir yang semoga selalu dirahmati Alloh SWT sehingga semua urusan Habib dimudahkan-Nya.Amii.

Bib,Hamba yang Faqif,Dhoif&Jahil ini mo tanya ama Habib:

1.APA SAJA FADHILAH PUASA DI BULAN RAJAB
2.PUASANYA BERAPA HARI,KARENA SAYA PERNAH DENGAR ADA
YANG MEMBOLEHKAN 10 HARI.

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih.Wassalamu'alaikum Wr.Wb.





Wahyono
| | Silahkan login terlebih dahulu untuk bertanya
Re:FADHILAH PUASA DI BULAN RAJAB - 2007/07/17 01:45Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

Semoga Keagungan Cahaya Rajab dan kemuliaan Isra wal Mi’taj selalu menerangi hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
1. tak teeriwayatkan dalam hadits shahih mengenai keutamaan puasa di bulan rajab,

namun ada hadits Nabi saw bersabda : "Barangsiapa berpuasa di bulan haram (rajab adalah salah satu dari bulan haram) pada hari kamis, jumat dan sabtu, maka baginya pahala Ibadah 60 tahun" (Majmu' zawaid juz 3 hal 191)

2. mengenai ketentuannya terdapat perbedaan, dan batas penjelasan yg shahih adalah memperbanyak puasa di bulan rajab, tanpa ada batasan harinya, bahkan ada sebagian ulama yg berpuasa mulai rajab dan sya'ban, berlanjut ramadhan,

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a'lam
| | Silahkan login terlebih dahulu untuk bertanya
Re:FADHILAH PUASA DI BULAN RAJAB - 2007/07/20 03:12terus bagaimana tentang perkataan Nabi SAW kepada sahabatnya yang saya dengar di suatu majlis. Di riwayatkan pada waktu itu seorang sahabat bertemu dengan Rasulullah SAW dan menanyakan tentang amalan (perbuatan) yang dapat meningkatkan ibadah di bulan Rajab. Maka itu Nabi SAW menjawab "berpuasalah engkau di bulan Rajab, karena 1 hari engkau berpuasa di bulan Rajab maka Allah SWT akan mengampunkan dosamu tiga tahun dan kelipatannya. apabila engkau berpuasa selama tujuh hari di bulan Rajab maka akan ditutup ke 7 pintu neraka untuk orang yang berpuasa selama tujuh hari dan bila engkau berpuasa 8 hari di bulan Rajab maka akan dibuka ke 8 pintu surga untuk orang yang berpuasa di bulan Rajab. mohon penjelasannya
| | Silahkan login terlebih dahulu untuk bertanya
Re:FADHILAH PUASA DI BULAN RAJAB - 2007/07/21 03:25Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

Cahaya keberkahan Rajab dan kemuliaan malam isra wal mi’raj semoga selalu menaungi hari hari anda,

Saudariku yg kumuliakan,
mengenai hadits tersebut saya tak menemukannya dalam riwayat shahih, dan bila teriwayatkan dalam dhuafa maka tak ada larangan bagi kita untuk mengamalkannya, sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidh Imam Nawawi bahwa tidak riwayat pelarangan puasa di bulan rajab, maka pelarangan akan hal itu adalah hal yg mungkar.

demikian saudariku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a'lam
Forum silahturahmi jama'ah Majelis Rasulullah, klik disinihttp://groups.yahoo.com/group/majelisrasulullah

Peduli Perjuangan Majelis Rasulullah saw
No rekening Majelis Rasulullah saw:
Bank Syariah Mandiri
Atas nama : MUNZIR ALMUSAWA
No rek : 061-7121-494





Masukkan Email Anda untuk Langganan Artikel:

Delivered by FeedBurner

Selasa, 07 Mei 2013

Fahkum Bidhawahir Saudaraku


Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamualaikum,

Saudaraku sobat sang fakir,

Marilah sebelum memulai aktifitas kita, berharap dan berserah diri padaNYA, mengecilkan diri , menghinakan diri, dan menundukkan diri serendah-rendahnya di hadiratNYA, karena Ia Maha Besar, Ia Maha Mulia serta hanya Ia Yang Maha Tinggi. Ia Maha Besar segala sesuatunya, Sifat yang tertinggi diantara semuanya, Ia Maha diatas segala yang dimahakan. Setiap denyut nadi kehidupan, helaan nafas, tiupan semilir angin, lintasan hati, bisikan halus lembut, dan segala perputaran roda kehidupan dunia ini semuanya bersatu padu, merangkai menjadi rantai yang kokoh yaitu Penghambaan . Hamba berarti ia butuh, ia butuh menyembah pada Dzat yang layak Disembah Ialah Allah SWT.

Bila dibandingkan dan ditimbang seluruh semesta Alam dengan satu kalimat Thoyyibah Laailaahailallaah, maka lebih berat timbangan kalimat mulia tersebut. Saudaraku di tengah malam penuh hikmah ini, Allah SWT Maha Sibuk mengendalikan setiap urat denyut nadi kehidupan hambaNYA, Ia Maha Mencintai, Ia Maha Memenuhi, Ia Maha Menunaikan, Ia Maha Melihat. Ia Mencintai Hambanya yang butuh dan berharap serta berserah padaNYA, Ia Maha Memenuhi setiap seruan dan ratapan hambaNYA, Ia Menunaikan janjiNYA, Menolong bagi yang menolongNYA, Memuliakan bagi yang memuliakanNYA. Setiap Risalah cintaNYA adalah wujud Pengewejantahan yang nyata atas HadirNYA, Ia Maha Berkehendak, Ia Maha Ingin Dikenal, kemudian Ia Maha Menciptakan, jadilah Ia Sang Khalik Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, adanya Khalik kemudian terciptalah Makhluk.

Fahkum Bidhawahir, dua kata yang menguntai satu kalimat yang jelas dengan arti harfiahnya " menghukumi ( menjatuhkan hukum, menilai, memberikan statemen )yang nampak secara dzahir ( nyata, nampak, jelas, terang, gamblang, valid ), yang berarti bisa terlihat secara kasat mata, tidak terhalang-halangi sedikit pun oleh tabir yang membelitnya. Saudaraku kata-kata itu terdengar dari ucapan guruku mulia, mengingat saat ini mereka yang mencari pembenaran sendiri dengan menjungkalkan hukumNYA membabi buta, serampangan, seolah mereka yang paling benar menghukumi siapa-siapa yang mencoba menunaikan syariatNYA.

Yang sering saya temui adalah 2 hal, Berkerudung, dan Shalat, lantas apa yang salah saudaraku ?

Kasus pertama : Berkerudung ( Hijab atau Jilbab )

Mungkin saudarkau pernah mendengar statemen ( pernyataan ) atau anda sendiri yang membuat statemen itu.

 " Buat apa berkerudung tapi suka berbohong atau munafik ". lantas diteruskan dengan pembenaran " Lebih baik mereka yang tidak munafik, jujur apa adanya meski gak berkerudung ".  atau
 " Buat apa berjilbab tapi bentuk tubuhnya kelihatan dan hanya mengikuti trend saja ", lantas dia menekankan kalau dia itu benar seraya berkata " Mendingan gak pake kerudung, tapi sopan dan sederhana apa adanya ".

Untuk sanggahan kasus pertama:

Saudaraku pasti tahu kan kalau berkerudung itu adalah jelas perintah Allah SWT sesuai yang tertera pada ayat Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 33 yang artinya  :

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dan Allah SWT juga berfirman di dalam surat Al-A’raf ayat 26 yang artinya  :

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat

Jelas sudah mereka yang melanggar ayat Allah SWT tapi menurut paham ahlus sunah wal Jamaah mereka tidak dihukumi kafir cukup dia itu berdosa besar karena tidak mengenakan hijab, sedangkan seseorang yang sudah mukmin tapi ketika berbohong atau terjebak dengan dosa yaitu munafik, maka akan tergugurkan dengan mereka meminta ampun. Dan mereka yang berupaya menuju ke arah kebenaran meski masih belum sempurna, maka akan diampuni olehNYA. Sedangkan mereka yang merasa benar, jujur tapi jelas-jelas melanggar perintah Allah SWT cenderung terjebak dengan opini mereka yaitu merasa sudah benar meski sebenarnya melanggar perintah Allah. Dan jelaslah Allah memperingatkan mereka dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 147 yang artinya  :

Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, juga mendustakan akhirat, hapuslah seluruh pahala amal kebaikan. Bukankah mereka tidak akan diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan?”.

Kasus kedua : Shalat

Statemen yang sering terdengar adalah " Buat apa mereka shalat kalau mereka sering berbuat culas, curang dan merugikan orang lain ", mereka mengajukan pembenaran seraya berkata " Lebih baik mereka yang tidak shalat tapi beramal sholeh, jujur, sering berderma, tidak peduli meski abangan yang penting banyak berbuat kebajikan itu sudah cukup ".

Itulah pernyataan dan pembenaran yang membahayakan, seolah-olah benar dan memang seperti mutlak benar adanya, tapi sebenarnya ia mengecoh dan menipu.  Rasulullah SAW menegaskan keutamaan shalat melalui sabdanya yang artinya :

“Pokok segala perkara itu adalah Al-Islam dan tonggak Islam itu adalah shalat, dan puncak Islam itu adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih).

“Barangsiapa menjaga shalatnya maka shalat tersebut akan menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari Kiamat nanti. Dan barangsiapa tidak men-jaga shalatnya, maka dia tidak akan memiliki cahaya, tidak pula bukti serta tidak akan selamat. Kemudian pada hari Kiamat nanti dia akan (dikumpulkan) ber-sama-sama dengan Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay Ibnu Khalaf.” (HR. Ahmad, At-Thabrani dan Ibnu Hibban, hadits shahih)".
Sanggahan untuk kasus kedua

Mereka tidak sadar bahwa ternyata shalat adalah selain untuk menyembah, menghambakan diri, meminta, juga sebagai saran untuk bertobat padaNYA. Bukankah setiap saat kita berada dalam kemunafikan dan kefasikan ? untuk menghapus itu maka solusinya adalah shalat, lantas kalau mereka tidak shalat bagaimana amalan lainnya yang dianggap amal kebajikan nan sholeh itu ? Rasulullah SAW secara gamblang menguraikan dalam haditsnya yang berbunyi :

Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk maka seluruh amalnya pun akan buruk.” (H.r. Ath-Thabrani dalam Al-Mujamul Ausath, II:512, no. 1880 dari sahabat Anas bin Malik. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Akbani daam kitabShahih Al-Jamu’ish Shaghir, no. 2573 dan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, III:343, no. 1358)

Jadi mereka mereka yang menyatakan telah beramal baik dan sholeh ketika mengingkari shalat maka semuanya adalah nol besar. Dan Allah SWT secara tegas memperingatkan bagi mereka yang meninggalkan shalat.

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturut-kan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kerugian.” (Maryam: 59)

Jelaslah mereka benar-benar merugi meski sudah beramal sebesar gunung, dan sedalam lautan kalau tidak shalat tidak berarti apa-apa. 

“(Yang menghilangkan pembatas) antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Marilah saudaraku berhati-hatilah jangan terjebak pada statemen atau pernyataan atau pembenaran yang sebenarnya salah. Tetap lah berpegang teguh dengan tuntunanNYA, marilah kembali merapatkan barisan pada para Ulama, Kiyai,Ustadz, guru kita yang tabahur ( Luas dan dalam ) ilmu syariatnya, agar kita tidak terkecoh, tidak tertipu oleh tipu daya dan muslihat para musuh Allah SWT. Marilah mengaji pada para beliau di Majelis ta'lim, Pesantren, Majelis Istigosah, Majelis Dzikir dan Majelis-majelis ahlus Sunnah wal jamaah lainnya. Wallahu 'alam bish shawab "

Semoga saya, dan kalian serta keluarga selalu dinaungi oleh HidayahNYA, Amiiin.

Wassalamualaikum.


Afwan saudaraku, jika peduli dengan admin blog ini mohon dukungannya dengan mengklik like di page atau halaman kedua urutan ke 10 silahkan atas nama mustopa dengan cara login lewat FB atau twitter di Link berikut 


Kalau minta akses FB di OKe aja, nti daftar akun blogdetik ya. Terima kasih semoga Allah membalas kebajikan saudara sekalian.

Masukkan Email Anda untuk Langganan Artikel:

Delivered by FeedBurner

Jumat, 03 Mei 2013

Syarat Agar kita Bisa Berkumpul dengan Keluarga di Surga




Pesan dari Admin yang selalu berupaya memberikan info yang terbaru dan akurat, mohon dukungannya untuk klik Link  Teknologi Hijau Daihatsu dalam rangka mengikuti Kontes, setelah itu mohon juga di Share ke FB dan Twitter teman2.  





Bismillahirrahmaanirrahiim

Allahumma Sholli ala Sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad, Wasohbihi Ajmain. Sahabat fillah malam Jumat yang penuh barokah ini semoga kita diberikan kekhusuan dalam beribadah dan berdzikir mengingatNYA. Setiap amal Shaleh dari seminggu yang lalu tengah malam ini dicatat oleh Malaikat pencatat Amal kemudian dihaturkan ke HadiratNYA. Semoga amalku dan amal kalian diterima dengan sempurna oleh Allah Azza Wa Jalla, karena Ia tidak akan menyia-nyiakan setiap amal HambaNYA, semua dibalas sesuai dengan takarannya tidak akan tertukar satu sama lainnya.
Marilah kita selalu belajar untuk mencari makna dalam diri hidup kita, selalu berbenah diri untuk mencapai RidhoNYA, agar kelak di akhirat kita bisa bermuajahah dengan para Solih dan solihat . Tiada untaian permata terindah manakala kita sekeluarga berjumpa pada suatu tempat yang penuh kenikmatan, mari sobat fakir kita simak sejenak.


♥ 8 SYARAT AGAR BERKUMPUL DENGAN KELUARGA DI SURGA ♥


Bagi muslimin ada satu reuni yang memiliki nilai luar biasa, yaitu kesempatan bertemunya kembali keluarga besar seketurunan di tempat baru yang sangat menyenangkan di akhirat kelak.

Allah berfirman dalam QS Ar-Ra'd [13]: 22-24 yang artinya "Orang-orang itulah yang
mendapat tempat kesudahan (yang baik), yaitu Surga 'Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama orang yang saleh dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan anak-cucu mereka, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), 'salaamun alaikum bimaa shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). 'Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu"

Sayyid Quthb dalam "Tafsir Fi Zhilalil-Qur'an" menjelaskan peristiwa di atas laksana sebuah festival atau reuni dimana mereka saling bertemu, mengucapkan salam, dan
melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan dan menggembirakan serta penuh dengan penghormatan.
Kebersamaan di surga tersebut tentu tidak mudah untuk dicapai, karena dalam kisah yang dijelaskan Alquran banyak keturunan/keluarga yang tidak lagi bisa bertemu di akhirat,Seperti: Nabi Nuh dengan putra dan istrinya, Asiyah yang solehah dengan suaminya (Firaun), dan Nabi Luth dengan istrinya.

Namun bertemunya keluarga besar di surga bukan pula sesuatu yang tidak mungkin.
Allah menjelaskan dalam QS. Ar-Ra'd [13] : 18-21 kita bersama keluarga besar bisa bertemu di surga 'Adn, asal dapat memenuhi delapan syarat.

♥ Pertama, memenuhi seruan Tuhannya
Barang siapa yang patuh kepada Allah niscaya ia akan mendapatkan pembalasan yang sebaik-baiknya.

♥ Kedua, memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian.
Janji Allah disini mutlak, meliputi semua macam perjanjian. Janji terbesar yang menjadi pokok pangkal semua perjanjian ialah janji iman. Perjanjian untuk setia menunaikan segala konsekuensi iman.

♥ Ketiga,menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan.
Dalam hal ini taat secara paripurna,istiqomah yang berkesinabungan, dan berjalan di atas sunnah sesuai dengan aturan-Nya dengan tidak menyimpang dan tidak berpaling.

♥ Kempat, takut kepada Allah.
Takut kepada Allah dan takut kepada siksaan yang buruk dan menyedihkan pada hari
pertemuan yang menakutkan.

♥ Kelima, sabar. 
Sabar atas semua beban perjanjian di atas (seperti beramal, berjihad, berdakwah, berijtihad), sabar dalam menghadapi kenikmatan dan kesusahan, dan sabar dalam menghadapi kebodohan dan kejahilan manusia yang sering menyesakkan hati.

♥ Keenam, mendirikan Shalat. 
Ini termasuk juga memenuhi janji dengan Allah. Shalat ditonjolkan karena merupakan rukun pertama perjanjian ini, sekaligus menjadi lambang penghadapan
diri secara tulus dan sempurna kepada Allah. Juga penghubungan yang jelas antara hamba dengan Tuhan, yang tulus dan suci.

♥ Ketujuh, Menginfakkan sebagian rezeki secara sembunyi atau terang-terangan.

♥ Kedelapan, menolak kejahatan dengan kebaikan dalam pergaulan sehari-hari. Dalam hal ini diperintahkan membalas kejelekan dengan kebaikan apabila tindakan ini memang dapat menolak kejahatan itu,bukan malah menjadikan yang bersangkutan semakin senang berbuat kejahatan.

Delapan syarat ini telah Allah jamin akan menghantarkan seseorang dapat berkumpul di surga 'Adn. Mereka mendapati tempat kesudahan yang baik.
Di samping masuk surga, mereka juga dimuliakan dengan bertemunya kembali dengan orang-orang yang mereka cintai.

Hal ini merupakan kelezatan lain yang mereka rasakan di dalam
surga. Semoga kita termasuk di dalamnya. 

♥ Aamiin Ya Robbal Allamiin ♥

Masukkan Email Anda untuk Langganan Artikel:

Delivered by FeedBurner

Rabu, 20 Maret 2013

Panglima Perang Kesultanan SULU ternyata Warga dan PNS di Malaysia


Bagaimana sobat sang fakir hari ini anda sehat dan sukses dengan pekerjaan anda? Sambil rehat kita coba tengok peristiwa sengit antara kesultanan sulu dan pemerintah Malaysia dalam mempertahankan haknya masing-masing. Yang satu dari pihak kesultanan Sulu menyatakan berhak mendapatkan kembali tanah yang telah hilang dan direbut dari semasa Jajahan colonial Inggris hingga kemerdekaan Malaysia Sabah, dan di lain pihak pemerintah Negeri Jiran itu yang menyatakan berhak dan berkuasa penuh atas tanah yang telah diberikan dari mendiang “ tuannya ” colonial inggris itu.

Tanah sengketa di bagian utara Kalimantan tersebut sebenarnya hadiah dari kesultanan Brunei untuk kesultanan Sulu yang telah berjasa membantu Brunei mempertahankan kedaulatannya dari serangan musuh-musuhnya. Dan karena daerah sabah adalah berdekatan dengan tanah jajahan inggris maka disewakan kepada pemerintahan yang dipimpin oleh ratu Elizabeth tersebut. Sewa tanahnya pun tidak pernah berubah hingga akhirnya Malaysia dimerdekakan oleh tuannya. Karena kesultanan Sulu yang dipimpin oleh keluarga Kiram tersebut terjadi kefakuman alias tidak berdaulat lagi setelah menyerah pada Amerika yang kemudian di bawah kepemimpinan Negara Filipina, maka sabah seolah-olah sepenuhnya milik Malaysia.

Sehingga keturunannya  keluarga kiram itu yang merasa memiliki hak waris atas Sabah merasa berhak untuk merebutnya kembali dari Malaysia. Sehingga dikirimlah 200 pasukan Sulu ke tanah Borneo utara tersebut untuk mengingatkan kalau sabah adalah tanah moyang mereka. Namun Malaysia tidak mau menyerahkannya meski harus adu tanding dengan mereka. Nah sobat fakir ternyata panglima Kesultanan Sulu pernah menjadi Warga Malaysia bahkan jadi PNS di Malaysia seperti yang dituturkan oleh merdeka.com berikut ini.
Panglima Sulu Agbimuddin Kiram yang mengerahkan sekitar 200 pasukan ke Negara Bagian Sabah, Malaysia, bulan lalu ternyata pernah menjadi warga negara Malaysia dan bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kota Kudat, Sabah.

Surat kabar Malaysia Chronicle melaporkan, Rabu (20/3), Direktur Partai Keadilan Rakyat Rafizi Ramli mengatakan informasi mengenai riwayat Agbimuddin itu tertera dalam daftar pegawai negeri sipil tahun 1975 di Sabah. Agbimuddin terdaftar sebagai petugas administrasi di Kudat sejak 1 Maret 1974 dengan gaji Rp 1,8 juta per bulan.

"Kasus ini terkait dengan data kewarganegaraan di zaman Perdana Menteri Mahathir Mohamad," kata Rafizi.

Dia kemudian mendesak Perdana Menteri Najib Razak menjelaskan kasus kewarganegaraan sejumlah pengikut Sulu yang memperoleh identitas warga negara Malaysia.

Juru bicara Kesultanan Sulu, Abraham Idjirani, mengatakan perjuangan di Sabah akan terus dilanjutkan.

Dia menuturkan gencatan senjata sepihak yang dilakukan Kesultanan Sulu telah dicabut dan Sultan telah memerintahkan pasukannya untuk melancarkan taktik serang dan lari melawan pasukan Malaysia.

Jamalul juga menyebutkan kabar yang disebarkan pihak Malaysia tentang Agbimuddin telah kabur kembali ke Filipina tidak benar.

Masukkan Email Anda untuk Langganan Artikel:

Delivered by FeedBurner

Kamis, 13 Desember 2012

Kebaikan dan Keburukan Seorang Hamba di Hadapan Tuhannya


Assalamualaikum Wr. Wb

Bismillahirrahmanirrahiihm,

Alhamdulillahi Robbil Alamiin, wa bihi nasta'inu Ala umurid dunya wad Din, Amma ba'du. How are you brothers and sisters? May Allah Bless you all, Amiin. Kita bagaikan rantai yang kokoh tidak boleh dan memang seharusnya tidak bisa terlepas, selagi akidah dan iman kita sama. Landasan itu tidak bisa dianggap remeh dan tidak bisa dianggap main-main. Aqidah ibaratnya wadah atau pondasi, kalau wadah itu bocor atau pecah maka tidak akan bisa menampung sesuatu atau jika pondasinya keropos maka bangunannya akan runtuh ambruk tak berbekas.

Sobat, saya juga masih ingin belajar banyak tentang akidah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan ini. Betapa banyak cobaan dan godaan yang menerpa hidup kita, bagai badai dan topan tak henti-hentinya menerjang bahtera. Jika bahtera itu rapuh sirnalah ia beserta isinya, lain halnya dengan bahtera Nabi Nuh AS yang begitu kokoh karena arsiteknya mendapatkan bimbingan dari Sang Maha Mengetahui. Bahtera itu kokoh tidak retak sedikitpun meski diterjang badai yang maha dahsyat di kala itu. Tapi ingat sobat seberat apapun hal ihwal yang menimpa diri kita dan keluarga kita jangan sampai berburuk sangka pada Allah SWT, kita harus tetap berhusnudzon padaNYA karena Ia yang Maha Mengetahui tentang diri kita.

Saya hendak mengutip sebuah hadits dari kitab Muhtar Ahadits No 59 yang artinya : Ketika Allah Menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Maka Allah akan menyegerakan hisab/siksaNYA di dunia, tetapi kalau Allah Menghendaki keburukan padanya maka Allah akan menunda siksaNYA hingga hari kiamat.

Arti dari hadits di atas tersebut merupakan hasil dari kajian bersama ustadz saya setiap malam sabtu. Jadi kalau kita sering mendapati ujian bisa ringan, menengah, berat bahkan super berat itu adalah bentuk Kasih sayang Allah pada kita. Allah sedang menguji kita sejauh mana tingkat keimanan, ketaatan dan tentunya kesetiaan dan rasa cinta kita pada Allah SWT.Dan yang jelas Allah SWT tidak akan menguji hambaNYA melampaui batas kemampuannya.

Jadi kalau kita mendapat banyak cobaan baik berupa bala ( hal yang tidak menyenangkan ) kita harus tetap tabah ( Tawakkal ) dan berbaik sangka padaNYA kalau cobaan itu berupa hal yang memberatkan bisa jadi itu adalah hisab atau balasan terhadap amal perbuatan yang telah kita lakukan. Dan itu adalah bukit kalau Allah SWT Menghendaki kebaikan pada diri kita.

Dan jika kita lebih banyak mendapat fadhal, nikmat Allah yang berupa kesenangan kita harus bersyukur juga harus waspada dan ingat pada  nikmat Allah itu. Kita meminta padaNYA dengan nikmat itu sebagai sarana ibadah padaNYA bukan jalan atau cara Allah untuk Menghendaki keburukan pada diri kita.

Demikian sobat fakir semoga Allah SWT selalu memberikan HidayahNYA pada diri kita, keluarga dan orang yang kita kasihi. Semoga Allah memanjangkan umur kita dan kita bisa bersua di bahasan selanjutnya.

Wassalamualaikum.


Sang Fakir

Note : referensi kitab Muhtar Ahadits no. 59 dan Kajian Rutin Majelis Al-Bayan Ustadz Fatoni, Serang-Banten

Masukkan Email Anda untuk Langganan Artikel:

Delivered by FeedBurner

Senja Kelabu

Sabtu kemarin tidak biasanya anakku yang paling kecil terlihat murung, dia padahal yang paling ceria. Ketika diajak canda hanya sesekali senyum renyahnya tersungging, aah ternyata matanya bengkak kemerahan. “ Astagfirullah kenapa ya sayang digigit nyamuk atau kenapa? “ hati kecilku bertanya-tanya iba. 


Akhir pekan di rumah biasanya begitu ramai dengan gelak tawa si kecil, dia paling senang diajak canda dan ciluk baa sama tetehnya. Ketika dicek lebih teliti pada sekitar matanya, ternyata matanya terkena iritasi ringan kemerahan, ada kotoran berwarna kuning yang sering menghalangi pandangannya. Tapi yang membuat saya kagum dia tidak rewel, beda dengan teteh-tetehnya dulu yang lebih rewel ketika panas atau terkena iritasi mata.


Saya mengingat-ingat si dede pernah dibawa jalan kemana saja, padahal sedari kemarin dia hanya dibawa ke tempat si bibi yang biasa ngasuh. Jarak pengasuh anak kami tidak terlalu jauh, tepat di depan komplek kami dan jalannya pun tidak berdebu. Oh ya istri mengingatkan, si dede mungkin terkena debu ketika kami mengantarkan adik ke calon istrinya pada saat akad nikah hari rabu kemarinnya. Langsung saja tanpa pikir panjang saya mengajak istri untuk berobat ke klinik atau bidan terdekat.


Sore itu kami langsung membawa si dede di bidan anak terdekat, biasa si tetehnya yang kedua merengek-rengek ingin di ajak juga. Dan lebih repot lagi kalau tetehnya yang pertama mau ikut juga, biasanya dia minta jajan yang macam-macam untungnya sedang di rumah neneknya di Cinangka. Kondisinya cukup mendung saya agak risih membawa dua anak kecil dengan motor lagi, tepat pukul 5 sore kami berangkat “ Bismillahi tawakaltu Alallah “ semoga Allah melindungi kami dari mara bahaya yang tidak diinginkan.


“ Semuanya sudah siap?” tanyaku. Si teteh kecil menjawab cadil , “siap ayah”. Ku tancap gas perlahan, melihat kondisi awan yang mendung bulu kuduk merinding seolah hujan lebat mau turun. Alhamdulillah 10 menit kemudian sampai di bidan Danik, kebetulan jaraknya sekitar 1 kilometeran. Di sana juga si dede dilahirkan, tepatnya malam hari jam 22.20 selasa malam. Di sana ada 2 orang anak yang menganteri juga, “ ya allah mudah-mudahan si dede tidak kenapa-napa “ doaku dalam hati.


Dua puluh menit kemudian giliran si dede dipanggil, bu bidannya pun merasa iba melihat dedeku yang cantik itu matanya kemerahan dan merintih kesakitan. Setelah diperiksa ternyata benar dia hanya terkena iritasi ringan dan diberi obat salep saja. 


Setelah selesai berobat dan hendak pulang hujan turun dengan lebat, sekitar setengah jam kami tertahan ‘ Allahuma Shoyiban nafian’ semoga hujan ini bermanfaat ya Allah. Dan kami pun pulang ketika adzan berkumandang, menyusuri jalanan yang basah. 


Sesampainya dirumah langsung kami obati si dede, dan selang 15 menit kemudian mata merah itu berangsur hilang. Senja kelabu pun sirna diterpa gelak tawa si kecil, dia paling senang dicanda oleh tetehnya.

Masukkan Email Anda untuk Langganan Artikel:

Delivered by FeedBurner